The U-Fail

Tadinya saya nggak mau nulis postingan ini. Bikin depresi aja deh, kalo diinget-inget. Tapi setelah dipikir-pikir sampe mlintir, akhirnya saya memutuskan untuk nulis juga. Ibarat lagi masuk angin, sapa tau kelar ‘muntah’ jadi legaaaa :D

Yes, and so I failed.

Oh, and U stands for Uniqlo. Yes, the apparel retailer. They opened a global management recruitment, semacam kayak di Unilever tapi versi toko baju :p.

I thought that it was my chance. My only chance. A golden ticket for me to get outta this country, to NOT working on civil engineering, Yes, I thought That U factor was the only golden ticket for me to go to Japan.

Ada 4 tahapan tes recruitmentessay online submission, fundamental test online (boy, this one was quite a hell!), local interview, final interview at Japan (!). Saya sudah sampai tahap local interview, and I thought I nailed it. Maybe not on the last part, where I had to go through a fundamental test (again!). But mostly, I nailed the interview. And so I didn’t know where did it go wrong. I was this close *put your thumb and index finger closer, almost touching each other* to realize my dream: go to Japan.

And whose fault is that?

Mau nyalahin siapa coba, emangnya? Nyalahin Mama yg penuh dengan keyakinan bahwa anak bungsunya ini, setidaknya bisa mencicipi negeri Sakura di wawancara terakhir? (padahal sebelumnya saya yakin sekali, ridha Ibu berarti ridha nya Tuhan, yakinnya Ibu berarti yakinnya Tuhan :p) Nyalahin orang-orang yang kurang ngirim doa? Sampe pada akhirnya saya nyalahin diri sendiri karena punya keyakinan bahwa I nailed those interviews (again!). Padahal saya sampe jungkir balik nyiapin diri buat local interview ini. Setengah mati nyari baju yg tepat (dress code: business suit!) dan setengah mati pula belajar ngejawab pertanyaan yang mungkin bakalan keluar nantinya. I have never tried that hard in any interviews before, yet I still failed.

To be honest, I was quite devastated back then. The little hope that’s in me was dead. Seriously.

Seperti ada yang dirampas dari saya saat itu.

Sebenernya ini tamparan buat diri sendiri. Semacam disadarkan sama Yang Di Atas. Waktu pertama kali mau daftar ini, yang pertama terlintas adalah: kesempatan ke Jepang. Tapi setelah lama-lama saya jadi berpikir, apakah orang tua saya malu kalau saya masuk dan keterima menjadi Store Manager yang berarti saya akan ‘berjualan’ di toko baju? Apakah mereka akan merasa pendidikan Sipil saya jadi tersia-sia? Soalnya saya tahu ketika beberapa saudara saya tahu akan hal ini mereka sedikit ‘bernyanyi’ dan merepet yang agak mirip dengan kalimat, ‘engineer kok mau jualan baju..’. Saya nggak mau kalau ibu saya di-’nyek’ sama saudara2 yang lain gara2 keputusan saya bekerja di sana. Lalu saya tanya berkali-kali pada Ibu saya, dan berkali-kali Beliau menjawab sama: tidak apa-apa, majulah kalau kamu mau.

Mungkin dengan bertanya berkali-kali kepada Ibu saya malah menandakan bahwa sayalah yang tak yakin?

Entahlah.

Malah ketika saya tahu saya gagal, esoknya saya cuma bisa bengong. Tidak, saya malah tidak bisa menangis. Sampai ketika Ibu saya yang menangis untuk saya. Bukan karena kegagalan saya, tapi lebih karena keadaan saya yang seperti tong yang sedang dibuang isinya, dan ketika dibunyikan berbunyi ‘TONG!’ keras sekali. Lalu air mata saya luruh saat itu juga :( Karena melihat Ibu saya menangis untuk saya.

Yang pasti saya gagal, saya harus ikhlas. Saya harus cari jalan baru, cari harapan baru. Saya yakin kok, saya pasti akan diberi yang lebih baik lagi dari ini.

:)

2 Responses to “The U-Fail”

  1. hii… lagi pas fase melow yelow gelow ya nok. skien wis hepi uhuy kan ning karawang. goyang maanggg..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.